Kehilangan

Mei 12, 2017

Kehilangan: sebuah makna perpisahan yang terkadang membuat banyak kenangan tertinggal di dalamnya.
Jarum jam memang belum menunjukkan waktu tengah malam, tapi anehnya otakku merasa sudah larut dengan banyak hal yang terjadi belakangan ini. Aku seperti mengalami banyak kejadian yang tidak terduga, seperti menjalani banyak hal yang di luar nalar.
Merindukannya, salah satunya.
Beberapa hari terakhir, aku hanya menyibukkan diri dengan menghitung rindu yang makin ke sini semakin berlipat ganda. Sampai-sampai aku tidak tahu, sudah berapa banyak ruang kosong di dalam dada yang sekarang penuh dengan namanya. Mungkin benar apa yang dikatakan banyak orang, bahwa bila dengan kehadiran tidak bisa membuat orang mengerti sebuah keberadaan, kepergian adalah salah satu pilihannya.
Hari ini, aku akan sedikit bercerita tentang sebuah pergi. Kumpulan dari rindu-rindu yang beranak-pinak di dalam hatiku hingga membentuk sebuah luka yang kuberi nama: kepergian.

Apakah kalian pernah menemukan orang yang begitu tulus mencintaimu? Menghabiskan banyak waktu hanya untuk memikirkanmu, untuk mengagumimu lebih dari siapapun, namun tidak pernah kau anggap dengan alasan kau lebih mencintai dirimu sendiri? Mungkin klise, tapi ini pernah terjadi, ini sedang kualami.
Aku bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu. Sama sekali tidak pernah kupikirkan bahwa aku bisa saja menjatuhkan hatiku padanya. Seorang gadis cantik dengan kedua bola mata purnama yang sedang sibuk dengan dunianya sendiri. Gadis itu tidak menatapku, mungkin dia memang tidak tertarik padaku. Tapi aku memperhatikannya. Aku mulai mengamatinya.
Namun ceritaku tidak berawal dari sana.
Gadis itu bukan orang yang sedang ingin kujaga, tapi anehnya mataku menjaganya dari banyak hal yang tidak dilihat orang lain.
Sebuah ketulusan.
Sebuah harapan.
Mungkin, sebuah kesetiaan.

Jauh setelah kami bertemu, banyak hal yang tidak pernah kubayangkan terjadi. Aku mulai menyadari kehadirannya, dengan caraku sendiri. Aku mulai melihatnya lebih banyak, dengan sudut pandangku sendiri. Aku mulai mendengarnya, dengan suara yang sudah dihapalkan telingaku untuk menjadi salah satu penenang dalam larutku. Bisa dikatakan, aku mulai jatuh hati padanya. Bukan lewat pandangan pertama, tapi jatuh hatiku tumbuh seiring ketulusan yang dia punya. Hingga segala tentangnya, sedikit demi sedikit mulai memenuhi setiap rongga yang ada di dalam dada. Lalu aku pun, utuh kembali. Seperti orang-orang idiot yang kasmaran karena cinta pertamanya.

Namun kisah ini tidak bisa kusebut kisah paling manis yang pernah kualami. Kisah ini seperti balon terbang, melayang tanpa ada tempat berpijak namun juga tidak pernah sampai di langit sana.
Kisah ini seperti pembicaraan kosong. Duduk bersama; aku bicara, sedang dia diam tanpa bahasa. Lalu aku bisa apa?

Ceritaku tidak lebih manis dari kopi yang pernah kalian seduh. Meskipun banyak orang yang bilang, bahwa kami adalah pasangan paling utuh. Ditemukan dalam kondisi terluka yang bersama-sama belajar untuk sembuh. Dari kagum menjadi cinta yang sedikit demi sedikit tumbuh.
Kenyataanya, cinta yang tumbuh itu pun layu sudah. Mungkin dia pada akhirnya lelah, dengan segala macam pikiran yang entah. Baginya, aku terlanjur kalah. Cinta pun menjadi benci yang tak bisa kubantah. Lalu perlahan jejak kecilnya di hatiku melangkah. Di hadapanku, kutemukan hatinya patah. Lukanya tidak berdarah. Tapi anehnya, tangisnya mendadak pecah. Hingga segala tentangku di matanya adalah salah.

Sekarang, segala hal yang kubisa adalah mengenangnya. Kelak, akan kutulis segala tentangnya dalam sebuah antologi yang kuberi judul: kehilangan. Agar aku bisa kembali merasakan ditinggalkan dalam bentuk kata-kata. Agar aku ingat bahwa cinta tak bisa dikecewakan. Agar aku bisa kembali meraskan sesal dari sebuah ironi.
Dari sebuah pergi.
Dari sebuah kehilangan.
Tapi percayalah, rinduku tak pernah bohong. Padanya, adalah arah pulang yang paling kusemogakan. Tinggal waktu yang menjawab, kami bahagia bersama atau bahagia dengan cerita yang berbeda.

Terima kasih karena telah mengijinkanku belajar banyak hal tentang mengistimewakan wanita. Semoga bahagia.

Dariku yang sedang memintal rindu dengan segala sesal yang kujadikan bahan baku.




Ferdiansyah Soenaryo.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Instagram

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Subscribe

Template Custom By : Uddin Art . All Rights Reserved.

Back to top