Partitur Palpitasi

Mei 28, 2017

Partitur (Par.ti.tur) n. Bentuk tertulis/tercetak pada komposisi musik. Palpitasi (Pal.pi.ta.si) n. Sensasi detak jantung yang cepat/tidak menentu. Partitur Palpitasi adalah debaran dada tidak beraturan yang dituliskan melalui kepergian tanpa meninggalkan apapun selain kerinduan.

Hujan pernah berkata kepadaku, tentang siapa yang paling tabah memelihara rindu. Baginya, musim adalah yang paling setia dalam mengikat temu. Meski berganti seiring waktu: musim tak pernah lupa pada siapa ia jatuh cinta; musim tak pernah sungkan pada siapa ia gantungkan sebuah harapan; musim pun tak pernah ragu akan rindu yang begitu satu, menyebut namanya seiring waktu.

Detik ini, entah hari keberapa aku kehilangan namanya di seisi rongga dada. Segalanya mendadak menjadi kedap suara, padahal bising di luar sana masih sering memekakkan telinga. Aku rindu hadirnya yang begitu kupuja, hingga rela kutukar segala yang ada untuknya tetap kujaga. Namun, mungkin kini ia hanya menjadi pelupa. Bahwa aku pernah menjadikannya arah pulang dari segala rasa yang kupunya.
Detik ini, entah hari keberapa aku berpikiran memakamkan namanya di ujung waktu. Padahal rindu masih datang menggebu-gebu. Ia telah hilang dan aku masih terlalu bodoh untuk menunggu. Ia tak pulang dan aku masih terlalu suka memelihara lukaku. Jadi, kubiarkan saja air mata ini tumpah untuk mengurangi sepiku. Kubiarkan segala yang entah menjadi segara dialirkannya sedihku.

Hari ini, namanya begitu melangit. Di ufuk dada, kenangan yang tak kukira pun terbit. Ia menjelma sebagai kekasih yang memelukku tanpa rasa sakit. Lalu perlahan, ia lahirkan kehilangan sedikit demi sedikit. Lalu pergi, hingga segenap rasa di dadaku menjerit. Aku mati dengan rindu yang masih terlilit.

Hari ini, aku tak ingin melupakan.
Hari ini, aku ingin mengulang kehilangan.
Lalu bersama bayangannya, aku ingin melahirkan kepergian.
Lalu bersama bayangannya, luka pun tak sungkan dilukiskan.

Cinta, hari ini kaulahir sebagai ketiadaan. Di beranda ingatan, segalamu menjadi hal yang dibenci keabadian. Selaksa harapan akhirnya kubiarkan lepas di batas perpisahan. Biar debar dada ini sakit seharian. Jangan mengasihaniku karena luka yang kau tinggalkan. Aku baik-baik saja, Puan. Pergilah, biar kurawat luka ini tanpa ada yang bisa disembuhkan. Pergilah, biar kuurus pemakaman cinta kita sendirian.

Semoga patah mengajarimu banyak hal.
Bukan malah menjadikanmu pemberi luka yang andal.

Dariku, yang hari ini belum berhenti memintal balutan pada luka dalam dada. 
Dariku, yang hari ini belum berhenti merapalkan namamu meski hanya sakit yang kurasa.

Ferdiansyah Soenaryo

You Might Also Like

5 komentar

  1. Semoga patah mengajarimu banyak hal.
    Bukan malah menjadikanmu pemberi luka yang andal.

    #Berkesan πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, kakak. Ayok bikin antologi buku, terus dicetakkan indie 😁

      Hapus
  2. Aku mati dengan rindu yang melilit.
    Arwah penasaran...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Subhanallah, dikomen Kang Joko. Ya Allah, mimpi apa aku semalam😊😊

      Hapus
  3. Hujan pernah berkata kepadaku,
    Like it😊😊

    BalasHapus

Popular Posts

Instagram

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Subscribe

Template Custom By : Uddin Art . All Rights Reserved.

Back to top