Rhythm

Juni 14, 2017


Foto by. Kawan Giri Santoso (IG. @kgsantoso69)
Aku rindu bertubi-tubi, hingga rasanya hidupku tidak lebih baik dari sekedar patah hati. Kau, lebih memilih tidak pulang di ujung hari. Lalu segalaku menjadi seperti ini. Berteman sepi dengan segala riuh yang kujaga sendiri. Memasung sunyi hingga rasanya ingin mati.

Mengertilah!
Sekarang kau lebih memilih menyerah dengan alasan cinta yang sudah teramat lelah. 
Mengertilah!
Kau sengaja mengacuhkan segala patah, seolah-olah aku lah biang dari semua rasa salah.
Mengertilah!
Cinta ini akhirnya minta dipapah, lumpuh total karena kesalahpahaman yang entah.

Beberapa dari rindu ditakdirkan untuk mempunyai sepasang lengan, atau sepasang kaki. Rinduku memilih sepasang lengan untuk menanti. Sedangkan rindumu lebih memilih sepasang kaki yang kau gunakan untuk pergi. Hingga akhirnya aku mulai mengerti, ternyata rindu bisa juga sebercanda ini. Kau bermain hati, aku yang luka berkali-kali.

Aku terjebak dalam memori yang kukenang. Kita berdua duduk di beranda ingatan, aku sebagai siang dan kau adalah senja yang lebih memilih hilang.

Kita pernah berjanji untuk saling berbagi pelukan, saat kekhawatiran menjadi satu-satunya musim dalam pikiran. Namun pada akhirnya aku harus siap merelakan. Senyummu yang tunggal adalah salam pembuka sebelum aku kau tinggalkan. Kini tidak ada yang lebih sempurna dari kesedihan. Air mata yang jatuh karena dilahirkan kepergian, telah menjelma dalam bentuk selaksa sayatan yang tidak lagi bisa kau sembuhkan. Di balik punggungmu yang mengabarkan kehilangan, aku sadar kau hanya akan menjadi kenangan. Seperti halnya sebuah pesan, cinta yang tulus biasanya paling disia-siakan.

Hari ini aku ingin memelihara sesak dalam bentuk tangis yang terisak. Hanya berharap semoga cintaku tidak lagi kalah telak. 
Terima kasih telah menghadirkan luka yang manisnya selalu kujaga. Seperti secangkir kopi tanpa gula, kuaduk segala rasa yang ada. Satu teguk saja, kau akan tahu benci dan cinta tidaklah berbeda.

Selamat hari patah hati, cinta.
Semoga rindumu menyenangkan.

Ferdiansyah Soenaryo


*Rhythm merupakan segala hal yang berhubungan dengan ketukan tempo atau ketukan yang menyatakan penjiwaan lagu.

Seperti halnya kepergianmu waktu itu yang menjadikan ketukan dalam dadaku menjadi sesunyi rindu. Ketukan yang akhirnya kujiwai dalam sebuah prosesi kehilanganmu. Kau tahu seberapa besar lukaku? Sebesar senyummu yang setiap hari menjadi cikal bahan baku kesedihanku.

You Might Also Like

9 komentar

  1. Keren kak tulisan nya, ajarin gua... Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayoo kakak, kakak kan sok sibuk sekarang. Hahaha

      Hapus
  2. Sebab patah adalah manis yang lama kau jaga, selamat merayakannya ☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ternyata, merayakan patah tidak seindah merayakan pesta pertemuan kita, contohnya.

      Hapus
  3. Saat kau bahagia, kau akan merindu rasa patah hati.
    Selamat menikmati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Patah ini seperti memori yang tidak mengenal waktu untuk dikenang kembali.

      Hapus
  4. Sadarlah nak, kepergian, kehilangan, atau apapun itu sudah digariskan. Jangan pernah kau sesalkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang disesali, kenapa kadang kita kehilangan pas lagi sayang-sayangnya #eh. Hahahaha

      Hapus

Popular Posts

Instagram

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Subscribe

Template Custom By : Uddin Art . All Rights Reserved.

Back to top