Lintang Kemukus

Januari 16, 2018

Foto : Pencarian Google
Hanya ada dua putih yang paling putih: itu cinta dan kamu.
Bagaimana harus kuawali ceritaku kali ini, jika mengingat namamu saja aku merasakan luka sekali lagi. Aku mulai ingat beberapa hal tentangmu, di saat yang bersamaan pula aku mulai melukai diriku sendiri. Menyayatnya tepat di jantung hati. Lagi dan lagi, berulang kali. Tapi rasa-rasanya aku tak lagi peduli. Karena dengan mengingatmu, seolah segalaku berreinkarnasi. Seperti hidup kembali, meskipun ada luka berhari-hari yang kan kurawat sendiri.

Hari itu, kau datang sebagai bidadari. Seperti kemukus yang menghiasi langit malam hari. Apa yang bisa kulakukan selain jatuh hati? Jika hadirmu kala itu adalah cikal lahirnya peretas sepi. Aku kagum sendiri, kau indah melebihi mimpi-mimpi. Kau sempurna melebihi apa yang kumiliki.

Aku ingin memulainya dari sini.
Hari di mana waktu bersekutu denganku, tepat di saat kau mengenalku. Aku tidak tahu, saat itu apa yang sedang meledak di pikiranmu. Aku tidak tahu, saat itu apa yang sedang dituliskan di benakmu. Aku tidak tahu, saat itu apa yang sedang Tuhan campur adukkan segala di hatimu. Yang kutahu saat itu mungkin aku seperti malam, semesta yang hanya mengenal warna hitam. Dan kau, layaknya sebuah lintang. Satu titik, tapi gemerlap seluruh kenang.

Yang tak kubaca dari sorot matamu, hanyalah ketidakpastian. Aku digoda untuk diyakinkan dalam simfoni sebuah hubungan. Ingar bingar segala rasa yang kau tawarkan, aku terima tanpa penolakan. Aku kau berikan sepasang sayap lalu mengajakku terbang setinggi angan. Hingga di atas sana kaubungkam aku tanpa penyesalan. Kautikam aku dalam bentuk keromatisan. Sayap kau patahkan, aku remuk redam jatuh bersama jeritan.
Di sisi lain, yang kubutuhkan ternyata hanyalah pelukan. Tapi kau menolakku, hingga aku pun terabaikan. Jejak langkahmu membingkai sedihnya sebuah pengharapan. Sebuah ikatan yang kau akhiri dalam bentuk kepergian. Lalu aku hanya bisa berhias tangisan. Sedih yang diciptakan karena dipaksa melupakan.

Cinta, lahirmu begitu singkat. Hingga aku tak mampu merangkummu dalam bentuk kalimat. Kini tinggal aku diambang sekarat. Kau menolak dekat, untukku yang berharap kaudatang sebagai penyelamat. Kau memberiku cacat, sejak pergimu melahirkan luka yang kujadikan sahabat.

Terima kasih untuk semua yang kauberi. Tentang cinta juga luka yang terpasung di nadi.

Ferdiansyah Soenaryo

*) Lintang Kemukus merupakan bintang berekor (komet). Dalam sebuah mitologi, lintang kemukus adalah tanda terjadinya sebuah bencana. Dalam hidup, bisa jadi orang-orang yang datang tapi tak memilih menetap serupa lintang kemukus. Indah, tapi sayang hanya menimbulkan luka.

You Might Also Like

2 komentar

Popular Posts

Instagram

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Subscribe

Template Custom By : Uddin Art . All Rights Reserved.

Back to top