Baritone

Mei 27, 2018

Foto by @udin.art
Apakah kaupernah berpikir tentang kehilangan yang tiba-tiba terjadi setelah datangnya orang tersayang? Memori otakku merangkum segalanya tentang sebuah pergi dari cinta yang teramat lapang. Mungkin sebuah pelajaran agar aku lebih bisa menjaga pandang. Atau kisah perjalanan agar bisa kuceritakan di masa mendatang.

Kusebut ia segalanya. Datang seperti mutiara yang ingin kujaga bentuknya. Menyentuhku perlahan dengan cinta yang teramat bahagia. Memelukku tanpa peduli masa laluku yang tak berwarna. Duduk di sisiku, berbagi cerita tentang masa depan yang kan kita lalui bersama. Dan mengajakku bergandengan tangan, meskipun aku duri yang akan melukai indahnya.
Kusebut ia segalanya. Menghampiriku yang saat itu hanyut dengan luka berongga dalam dada. Merangkulku untuk berbagi kesedihan agar kubisa bangkit dari perihnya lara. Memintaku untuk bertahan dengan janjinya yang akan menyembuhkan sepiku tanpa air mata.

Pernahkah kaumenyesali datangnya hujan padahal ia menjanjikan pelangi setelahnya datang?

Sekarang aku mengerti, ternyata pelangi tak selamanya berwarna-warni.
Ia bisa juga sewarna kelabu, utuh melingkar di dadaku karena pergimu.

Yang kutakutkan pada akhirnya terjadi sudah. Luluh lantak aku kaubiarkan setelah janji yang lupa kaujamah. Sedihku datang secara berjamaah lewat pergimu yang menjadi pusat satu-satunya gelisah. Aku ingin menukar segala amarah tapi rinduku sudah lelah. Kauteramat pintar bersandiwara hingga segalaku kauanggap salah. Bisa apa aku selain mengaku kalah, karena pergimu adalah kesia-siaan yang membuatku terpuruk pasrah.
Cinta, aku tak lupa tangis abal-abalmu yang mebuatku tersentuh. Aku tetap ingat caramu yang menuntunku untuk sembuh. Meski pada akhirnya kaulah sebenar-benarnya luka yang paling utuh.

Sekarang izinkan aku pergi dengan langkah yang tak bertujuan. Biar kubangun penyesalan ini lebih tinggi dari janji yang kauberikan. Datanglah sesekali di stasiun kenangan, agar kautemukan kota tempatku dan rindu disia-siakan. Kekasih, biar kabar duka menyampaikan kepadamu tentang riuh kepergian. Tangisnya seperti bintang yang berkelipan di dinding ingatan, tak redup meskipun sudah dipeluk Tuhan.
Lewat lagu perpisahan, bernyanyilah untukku dengan khidmat. Sebab bagaimana pun suaramu adalah rangkulan paling hangat, saat masing-masing dari kita hanya sebatas ingat.
Biar saja melupakanmu adalah pekerjaan paling hina, jika tiap gerimis rinduku selalu mengemis untuk berjumpa. Terima kasih untuk segalanya yang pernah ada: baik pelukan, senyuman dan sekecup ciuman di penghujung senja. Kini akan kumakamkan dengan doa, agar di kehidupan nanti kita boleh kembali berjumpa. Sebagai yang sama-sama mengerti betapa cinta ingin dijaga karena ia sangat berharga.

Ferdiansyah Soenaryo

*) Baritone adalah istilah dalam musik yang berarti pertengahan suara antara tenor dan bass pada alat musik atau vokal pria. Di kehidupan ini, baritone bisa diibaratkan kehadiran seseorang di antara sedih dan suka. Bisa ikut membawa kesenangan dengan menerbitkan cinta, atau justru sebaliknya. Membiarkan kesedihan dengan datang sebagai yang dipuja lalu pergi begitu saja. Bukan menyembuhkan luka yang ada, namun membuatnya semakin bertambah lara.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Instagram

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Subscribe

Template Custom By : Uddin Art . All Rights Reserved.

Back to top